Feeds:
Pos
Komentar

Pria Berkepala Buaya

Cerpen: Arief Firhanusa

LAKI-LAKI berkepala buaya itu berkali-kali menyelinap dalam mimpi Salma. Menebar ancaman yang membuat tidurnya tak nyaman. Kepada Lena ia menceritakannya, dengan getar kepanikan yang melebihi kisah tentang pertama ia menstruasi. Tetapi sahabatnya itu sama sekali tak punya belas kasihan dan malah terpingkal-pingkal.

“Jangan sering-sering nonton film horor, Neng. Itu akibatnya,” ujar Lena di tengah tawanya yang nyaring. Salma melenguh kecewa.

Sorenya ia mendekati Mama. “Ma, Salma mimpi buruk. Ada laki-laki berkepala buaya yang terus menerus mengejar. Salma takut.” Bersikap kolokan biasanya menyita perhatian Mama, sebagaimana ia mengadu karena diganggu temannya di sekolah, atau suatu pagi didapatinya bulu tumbuh meremang di bagian tubuhnya yang tertutup.

Sang mama menyimak sejenak paras gadisnya. Memelorotkan kacamata. Dijentiknya hidung perawan ranum itu. “Jangan kelewatan kalau bercanda karena akan terbawa saat kamu memicingkan mata. Ayo belajar sana, Mama tahu besok kamu ulangan.”

Salma menatap Mama putus asa. Dari jendela kamar ia menerawang jauh. Tak ia pedulikan kupu-kupu putih yang terbang mendekat untuk mengucap selamat tidur seperti biasanya. Kekalutan benar-benar menguntitnya setiap malam tiba. Bahkan ketika hanya mengingat malam.

Terkadang ia ingin menulis surat pada Papa, mengabarkan mimpi buruknya. Tapi Salma tak tahu bagaimana memulai. Di benaknya nyaris tak ada lagi perkataan untuk ia tuangkan ke kertas tertuju Papa. Menelepon mungkin lebih baik. Mendengar kata halo yang berat. Dan telepon akan segera ditutup kasar oleh Salma tanpa sepatah kata sempat terucap, saat suara bariton di ujung sana bingung siapa yang menelepon.

Dua tahun sudah Papa pergi. Salma pernah menyimpan beberapa fotonya secara rahasia di tumpukan buku. Kini sudah tak bersisa lagi. Salma menyobeknya menjadi cuilan-cuilan kecil. Membakarnya penuh amarah di pekarangan rumah. Menginjak-injak abunya hingga melesak ke tanah.

Saat belum dibakar, sesekali ditariknya foto itu dari persembunyian, menatap deretan gigi di sela kumis tebal. Ah, mata yang selalu tersenyum dan berkecipak. Seperti ketika suatu hari tanpa sengaja Salma melihat kecipak menakjubkan dari kamar mandi.

Ia hanya akan melintas karena tiba-tiba ia ingin menyedu kopi. Menuju rak piring untuk mengambil cangkir, ia harus melewati kamar mandi. Hari Minggu pagi yang sepi. Mama arisan. Bik Inah di jalan depan rumah belanja sayur.

Tepat ketika sejengkal lagi mencapai rak, sesuatu menyedotnya. Pintu kamar mandi separuh terbuka. Dilihatnya lekuk tubuh seorang pria dewasa yang berlumur busa sabun. Salma terkesima, lupa harus bergegas menjauh karena yang ia tatap adalah ayahnya sendiri. Dalam geletar yang aneh, tak seorang pun tahu kelopak perempuannya mengembang.

Malamnya Salma sulit tidur. Sensasi aneh menjalar lebih dahsyat dari pelajaran biologi. Bu Krisna senang melucu ketika memberi pelajaran anatomi. Di bangkunya, Salma kerap membayangkan bagaimana bentuk vital pria dewasa.

Sampai akhirnya penasaran itu terjawab. Tanpa sengaja, dengan mata kepala. Lain buku biologi yang ilustrasinya cuma gambar. Salma memperoleh jawabannya dari tubuh Papa. Dari hanya puas mendapat yang ia angankan, bergumpal kemudian denyut lain di sudut-sudut tubuh. Tangannya menelusuri baby doll bagian bawah. Menekan titik tertentu yang berdenyut tadi. Saat mengerang, ia memanggil-manggil Papa.

Salma mengecup pipi Papa. Sesaat lagi ia boarding pesawat yang segera mengantarnya ke Yogya, ke rumah Nenek. Kecupan yang biasa ia lakukan saat hendak bepergian, tetapi kali ini basah. Darahnya mengalir deras, tepat ketika bibirnya beradu pipi Papa.

Di ulangtahunnya ke delapan belas, Salma berdansa dengan Papa, mengitari ruang tengah dalam pelukan hanyut. Ia mengoles parfum di punggung telinga, khusus untuk Papa. Parfum lain dari tubuh Papa melesak lamat ke hidungnya, membuatnya tak ingin segera menarik kepala. Malamnya, untuk kesekian, tidur Salma basah.

“Papa…” Sesuatu ingin ia ucapkan. Saat itu teras rumah sakit tempias gerimis. Di ruang, Mama tergolek. Tipus. Malam telah jauh dan memanggil-manggil.

Papa menoleh. “Hm?”

Salma menggeleng. Ada kalimat yang tertahan.

“Mengantuk?”

Salma menggeleng lagi.

“Pulang kalau lelah.”

“Salma mau menemani Papa.”

“Besok sekolah.”

“Bosan di rumah. Sepi kalau tak ada Papa.”

“Ada Bik Inah. Pak Sadikun juga pasti belum tidur jam segini.”

Salma menyandarkan kepala di pundak Papa. Papa mengelus rambut anak semata wayangnya. Salma disesapi rinai lain. Papa di matanya debur dan riak lautan.

Lalu mengalir deras bak jet coaster. Salma mulai mengenal cemburu. Ditendangnya keranjang sampah ketika Mama setengah rebah dalam dekapan Papa saat menonton televisi. Mama hanya mengira Salma teledor.

Darah Salma mendidih di gerai kaset mal suatu siang. Bersama Lena ia tengah memilih-milih. Sampai kemudian matanya nyalang ketika dilihatnya Papa menggandeng perempuan sintal melintasi atrium.

Ia menabrak pintu kamar, menangis tersengal-sengal. Mama terkejut bukan main. Menginterogasi sebentar, dan kemudian sore itu menjadi ribut oleh dua amarah perempuan yang merasa dikhianati. Mama meradang, tetapi dada Salma lebih remuk.

“Jahanam!” Pekik Salma dini hari sebelum Mama dan Papa cerai.


MALAM
selalu mengencangkan detak dada Salma yang teramat benci pada tidur. Pukul dua dini hari ia masih mematung di bibir ranjang. Bertahan supaya matanya tetap terjaga. Dikunyahnya kue, menyeruput kopi, membaca setumpuk majalah, coba menghitung bintang dari kusen jendela. Namun ia roboh juga menjelang subuh.

Kemudian alam lain merenggut. Senyap. Namun berangsur-angsur kembali dilihatnya laki-laki berkepala buaya itu. Ia menyeringai seperti biasanya. Menyeret langkah dari ujung terowongan, penuh dengus mengancam, menuju Salma di ujung lain.

Salma dicekam kengerian tak terperi. Ingin lari, kaki terasa berat. Ingin ia meronta, atau menyambutnya dengan lemparan batu dan apa saja, tapi otot-ototnya serasa tanggal.

Dengus napas dan derak langkah makhluk itu menggema. Sepuluh meter, tujuh, lima. Menjelang dua meter sampai, bau bangkai menusuk dari keriput kulit busuk si makhluk. Salma ingin muntah.

“Kau tak bisa lari ke mana-mana!” Desis berat laki-laki berkepala buaya dengan gerakan mulut menggiriskan. “Kau tak akan bisa!”

“Kenapa kau menguntitku?” Gigil Salma.

“Karena kau akan menjadi santapanku!”

“Jangan! Tolong, jangan sakiti aku…” Salma merintih terbata.

“Hayo mendekatlah! Aku sudah amat lapar! Kau tak boleh lagi membuatku menunggu….” Ia bergerak. Mulutnya menganga. Bau anyir makin mengganggu. Sedetik lagi Salma terenggut dalam mulut…

Hei! Hei! Bangun!”

Salma terbangun. Cahaya terang gencar menabrak pelupuk matanya, tembus ke dalam retina. Refleks ia angkat tangan karena silau. Lalu dilihatnya Mama yang duduk terlongong.

“Mengigau sampai menjerit-jerit begitu. Hayo mandi. Kalau mau lulus SMA, segera berangkat ke sekolah. Satu jam lagi kau ujian,” omel Mama.

Salma menatap tajam udara kosong. Ada buaya yang melumuri hatinya…


KULIAH yang melelahkan. Dua bulan lagi wisuda. Toga. Secarik ijasah. Lalu diterima kerja. Rentetan perjalanan yang penuh mozaik. Tetapi tak pernah kawan-kawan Salma menemukan manik matanya menyala.

Salma adalah gadis bermata bulat dengan kaki runcing menyangga tubuh ramping. Pinggulnya padat terawat. Kulitnya langsat. Rambutnya kelam dan kencang. Setiap melangkah ia mirip penari. Namun keindahan itu diliputi ceruk kelam. Salma tak ubahnya tebing salju.

Honda Ceilo itu hilir mudik keluar dan menuju kampus disepuh sepi. Mematung dalam kesendirian tatkala mengendara, turun dari mobil dengan tapak menjangan. Keanggunan yang membius pria kampus, tetapi tak seorangpun mampu menerka isi hatinya.

Sengaja atau tidak, ia membiarkan terbengkelai buncah hasrat laki-laki. Sosoknya sengungun vihara. Menjelmakan kemisteriusan yang mengundang tanya.

“Hai, batu!” Seseorang mendadak berseloroh nyinyir. Pria yang sering dilihat Salma berkelebat di perpustakaan. Salma menengarainya dari anting di kuping. Tiga hari lalu pria ini memberi kerdipan mata dengan kurang ajar saat berpapasan di sela rak buku. Kini jarak keduanya hanya lima puluh senti, di trotoar kampus yang terik.

Salma meludahi wajah pria itu sebelum ngeloyor pergi, seperti singa yang mencabik mangsa dengan caranya sendiri. Si pria hanya bisa menatap murka saat mobil Salma melesat dari halaman.

Buaya-buaya itu dikumpulkan Salma dalam bentuk boneka, komik, pin, stiker, kertas bungkus kado, taplak meja, guntingan majalah, poster film, tas belanja, logo kaus. Ia melesakkan semua ke kotak kayu di kamar, menggemboknya kuat-kuat. Menyertakan dengus dendam tiapkali memasukkan barang baru. Menjaga rencananya membakar seluruh isi kotak, tepat nanti waktu yang ia inginkan.

Seluruh pria dianggapnya buaya. Sebab itulah ia ingin melumatnya. Ia bahkan mulai tak peduli lolong buaya itu datang dari mulut dosen pembimbing, penyiar televisi, bintang film, atau pemulung yang saban siang menjumputi barang loak di tong sampah depan rumah.

Saat sudah bekerja, ia tak melihat pemandangan lain dalam antrean teller kecuali binatang melata. Satpam di pintu depan yang kerap mengangguk hormat pun setali tiga uang. Buaya-buaya itu bertebaran di trotoar, toko buku, gedung bioskop, … Di beranda kos Salsa.

Ah, Salsa. Gadis dengan senyum basah. Dua bulan lalu ia berdiri di ambang pintu. Parasnya segan dan khawatir. Lewat ekor matanya Salma menaksir-naksir. Tingginya 165 cm. Rambutnya kemerahan tapi bukan karena semir. Ia memakai blazer kekuningan, cocok dengan kulitnya yang putih. Salma hampir tersedak saat disadarinya gadis itu memiliki sesuatu yang padat di dadanya.

“Sebentar, Marisa,” ujar Salma kepada seseorang di telepon.

“Nah, kau mulai bergairah.” Cerocos suara di speaker.

“Ambil saja. Aku mulai tak semangat setelah kau bicarakan soal tahi lalat.” Salma melambai pada gadis di ambang pintu.

“Jangan menyesal.”

Not my type, Risa.”

Cekikikan di ujung terpotong oleh gegas Salma menaruh gagang telepon. Sejenak ia mengamati gadis di seberang meja. “Duduk.” Perintahnya tegas, tetapi di telinganya terdengar syahdu.

Interview yang lama. Tak perlu lima belas menit untuk memutuskan Salsa, gadis itu, diterima kerja. Semua syarat ia penuhi. Hanya Salma ingin berselancar dulu di lekuk tubuh perempuan muda sarjana komunikasi itu.

“Besok kau mulai kerja. Kerasan, ya.” Adrenalin Salma berdenyut saat bersalaman. Adrenalin itu pula yang menendang tengkorak kepalanya saat ia lihat seorang pria mengunjungi Salsa.

Beranda yang temaram. Bunga anggrek bergelantungan di punggung sang laki-laki. Menciptakan denting kemesraan yang lembut. Salsa dan pria muda itu duduk berhadap-hadapan berjarak setengah depa. Dalam siluet, keduanya seperti dua pulau yang disambung riak kecil antarapantai.

Salma menggerakkan mobilnya perlahan. Menyibak rerimbunan bugenvil di halaman rumah itu melalui intipan separuh kaca. Didengarnya suara tawa. Renyah. Si pria mencubit. Salsa pura-pura mengelak tetapi tampak menikmati. Hati Salma teriris. Pedih dan nyaris lantak. Ia menggeram dendam.

Paginya ia menyiksa Salsa. Ditumpuknya segunung kerjaan dengan deadline padat. Salsa panik tak terkira. Dari balik kaca, Salma bersorak sambil menahan kelopak perempuannya meremang.

Salsa memulangkan tumpukan berkas, selang beberapa jam kemudian. Salma menyuruh Salsa duduk. Saat tadi masih berdiri, dilihatnya Salsa begitu menantang dengan rok mini. Salma ingin memagut betis itu. Tak boleh ada pria merenggutnya. Tak boleh!

Menjelang sore, tergesa Salma menggeret laci. Menarik selembar foto ukuran kartu pos. Beberapa waktu lalu ia mencomotnya dari berkas lamaran. Salma tersenyum dan menelan ludah. Di fotonya, Salsa seolah melambai, mengajak Salma menyeberangi kali. Tangan keduanya saling menggamit. Kemudian duduk hanyut di bawah pohon ek. Salma menyuapkan alpukat. Salsa menurunkan kepalanya ke pangkuan Salma …

…Telepon berdering. Salma menyurukkan foto ke laci dengan terburu. Seseorang dianggapnya kurang ajar karena menelepon ketika ia sedang diliputi birahi.

Malamnya ia kembali melewati gang Salsa dengan gemuruh di dada. Tibalah ia di rumah berlantai dua dengan bunga-bunga bugenvil di halaman. Sejurus hanya keremangan yang tampak. Pada detik lain, ia melihat apa yang ia takutkan.

Di sudut teras, Salsa berangkulan dengan seorang pria. Pria sama yang dilihat Salma malam-malam sebelumnya. Darahnya bergejolak dan mendidih. Jemarinya mencengkeram kemudi seakan meremas paru-paru pria itu.

Lalu mulailah ia merencanakan sesuatu. Tanpa berisik, ia parkir mobilnya di ujung gang yang tak begitu terang. Menunggu saat-saat paling tepat menusukkan pisau ke jantung pria yang merebut Salsa. Ia akan melakukan pembunuhan untuk membayar rasa sakit akibat seseorang merampok pujaan hatinya.

Semenit. Dua menit. Lima menit. Setengah jam. Tak juga laki-laki itu keluar. Kepalanya terayun berat saat membayangkan adegan di teras rumah. Ingin ia menghambur ke sana, mencabik leher pria itu tanpa kasihan. Namun ia urungkan. Sebuah pembunuhan kampungan. Ia akan menunggu saja, sampai detik-detik menyenangkan itu datang. Sebuah kematian yang lekas dan pantas.

Hati Salma berderak tatkala dilihatnya laki-laki itu mendorong pintu pagar. Mendekati motornya dengan senyum sumringah, ia melepaskan cium jauh pada Salsa yang berdiri di beranda.

Bergegas Salma menjangkau pisau dari jok sebelah. Berkilat-kilat di terpa kilasan lampu merkuri. Ia peroleh pisau itu dari pasar induk. Disuruhnya si penjual mengasah setajam pisau jagal.

Pada detik-detik berikut, ia tinggal keluar dari mobil, berdiri mengangkang tanpa menimbulkan curiga, lalu mendorong kuat-kuat pisau tepat ke ulu hati. Pria itu akan memekik tertahan. Kelejotan meregang nyawa. Penduduk berhamburan keluar. Tetapi Salma telah melesat jauh saat raung sirine polisi berdatangan.

Tiga detik lagi. Dua detik. Ia sudah akan beranjak dan segera menghambur turun dari mobil, ketika mendadak ia melihat pantulan wajahnya dari kaca spion. Wajah dengan keriput buaya ganas, lebih berlendir dan menyeramkan ketimbang pria berkepala buaya dalam tidur-tidurnya di masa lalu.

Ia amat tersentak dan ketakutan. Segera diinjaknya gas hingga mobil terlunjak, meluncur oleng di tengah padat lalu lintas, lalu melesat kencang ke utara tanpa orang tahu kemana ia menuju. (*)


Iklan

TATO

Cerpen: Arief Firhanusa

MIMIN mendadak sangat membenci tato. Minggu pagi saat kami mengitari taman, matanya membara melihat pemuda bertato di lengan. Untung tangannya cepat kugaet sebelum ia melabraknya.

Jangan sembarangan!

Sudah kubilang, aku membenci tato!

Kau hanya pernah bilang membenci tato, tapi tak pernah ngomong ingin melukai orang.

Aku membenci tato dan siapapun yang memakainya.

Simpan kebencianmu itu kalau tak ingin berurusan dengan polisi!

Suatu sore, ia menghardik Kintan yang menggosok-gosok tato kartun temporer, bonus makanan kecil. Kontan Kintan menjerit-jerit ketakutan ketika Mimin menghapusnya kasar dengan tiner. Aku hanya bisa menatap sedih.

Kini kegelisahanku tumbuh subur. Mimin bukanlah bayi yang dua puluh empat jam perlu diawasi. Tetapi perilakunya membutuhkan pengawasanku lebih dari balita.

Pagi ini perasaan was-was muncul lagi. Diam-diam, seolah sibuk meneliti judul-judul berita koran, ekor mataku meneliti setiap tingkah lakunya. Menunggunya marah dengan wajah beringas. Benar-benar konyol dan melelahkan.

Dengan baby doll belum tanggal, ia menggoreng kerupuk di tungku satu, dan menggoreng telur di tungku sebelah. Sesekali ia membuka-tutup ricecooker yang lamat-lamat telah mengepulkan asap. Ia membuat sayur asam, salah satu makanan favoritku. Diam-diam aku tersenyum sembari membayangkan sarapan lezat, sambil masih diliputi debar dada.

Kintan keluar dari kamar tidur setengah mengantuk. Merengek pendek. Mimin menciumi rambut anak empat tahun itu, dan lantas sigap menggendongnya.

Aku meloncat ke kamar mandi. Di kesejukan air, kegelisahanku mereda. Dua minggu cukup sudah direjam lelah. Sambil bersiul, aku meruap badan dengan sabun cair, membayangkan pekerjaanku mulai lancar. Membayangkan . Ah, aku harus mencukur cambang. Dari cermin kulihat wajahku sepucat mentega.

Makanan sudah siap, Mas. Kintan sudah menunggu, tuh. Aku mandi dulu, ujar Mimin saat kami berpapasan di kelokan. Ah, betapa rindunya mendengar ajakan seperti ini.

Di meja makan, tiba-tiba perasaanku tak enak. Tergoda mengintip tas kerjanya, aku berjingkat-jingkat. Kuangkat tas. Terasa berat. Perlahan kubuka. Kudapati pisau dapur, cutter, gunting. Tuhan! Aku menahan diri. Kutunggu Mimin selesai mandi.

Saat ia rapi dengan blazer, menegaskan parasnya yang cantik dengan polesan gincu-bedak yang berkilat, aku menatapnya dengan manik mata menyelidik. Aku ingin menanyakan sesuatu.

Ia menoleh dengan ekspresi datar.

Kulihat kau bawa-bawa gunting dan pisau. Untuk apa? Aku menatapnya tajam.

Aku akan membunuh Ismi dan Mariska, jawabnya ringan. Mariska dan Ismi, teman sekantornya itu? Astaga!

Salah apa mereka? Aku tak bisa lagi menyembunyikan cemas.

Ada tato di punggung dan bahu mereka. Kuketahui kemarin ketika senam. Saat kuminta menghapus, keduanya menuduhku gila.

Aku menggeleng putus asa. Kutekan bibir agar tak menyemburkan amarah.

Aku makin tak memahamimu. Tapi tolonglah pahami aku untuk menurut. Bongkar isi tasmu, lalu bekerjalah tanpa konyol. Aku muak dengan semua ini.

Ia menyelidik. Jadi, kau membela mereka?

Aku tak membela siapapun kecuali mencegahmu masuk bui.

Kau juga mengganggapku aneh seperti mereka bilang?

Aku tak sedang ingin berembuk soal lain. Keluarkan benda-benda tak berguna itu dari tasmu!

Baiklah, suaranya merendah. Tak membawa pisau bukan berarti aku mengurungkan niat. Ia bergegas mengorek tasnya, kemudian menaruh senjata-nya itu dengan kasar di meja. Segera kusingkirkan jauh-jauh. Diselesaikannya sisa makanan dengan denting sendok yang ribut.

Di jalan, aku sibuk berdoa. Menduga-duga petaka macam apa seandainya Mimin benar-benar mengamuk di tempat kerja. Diam-diam hatiku mengeluh saat membayangkan kantor polisi.

Mungkin jiwanya terganggu, Pras. Coba saja dibawa ke psikiater, kata Marwan, teman sekantor. Saat normal, aku akan menempelengnya karena kurang ajar. Tapi dalam situasi ini masukan siapapun kudengar. Benar juga. Barangkali Mimin memang gila dan hanya ahli jiwa bisa membantunya.

Tunggu! Kalau benar sinting, apa penyebabnya? Keturunan? Ayah-Ibunya membekalinya pikiran bening, dan aku yakin tak ada riwayat gila di keluarganya.

Stress oleh pekerjaan? Mimin teller bank yang tak pernah mengeluh selip uang. Pekerjaannya bersih. Pujian kerap mampir kepadanya saat kantornya memperingati hari-hari tertentu.

Jangan-jangan pelet. Perempuan cantik macam Mimin pasti banyak yang suka. Ratusan pria saban hari mengantre di front office. Pasti ada yang tergila-gila lalu mencari jimat pemikat. Tapi, benarkah guna-guna mengerdilkan pikiran seorang perempuan dengan mendadak membenci tato supaya sang suami menceraikannya karena dicekam muak? Entahlah.

Apa katamu? Aku gila?

Aku tak mengatakan itu.

Dengan membawaku ke psikiater, bukankah kau ingin mengatakan aku ini tidak waras?

Dengar dulu, Min .

Teganya kau.

Mungkin kamu terlalu lelah. Perlu ada seseorang yang membantu.

Tak usah bertele-tele. Aku tak sudi menuruti keinginanmu itu. Kau suami yang tak pernah memahami istri.

Memahamimu saat kau pukuli seseorang? Kira-kira, dong. Ini sudah keterlaluan!

MOBIL melintasi gapura bank. Kulempar senyum untuk dua satpam di gardu depan. Pasti senyum kecut. Dua satpam itulah yang nanti menyeret Mimin, menggiringnya ke mobil polisi. Raung sirine membelah kota. Orang-orang mengantar kepergian Mimin dengan lega, seolah ia jambret di bus kota. Oh!

Hatiku tidak tenteram saat menuju kantor. Sempat terpikir membawa Mimin pulang. Membolos. Alasan bisa dibuat. Tapi aku yakin ia punya banyak dalih untuk menolak.

Atau, bukankah lebih baik memarkir mobil di depan bank hingga petang seraya terus menerus mengawasi ruangan? Ah, hari ini tak mungkin meninggalkan pekerjaan. Harus kuseleksi puluhan pelamar. Tak bisa begitu saja kulimpahkan pekerjaan pada bawahan. Sebuah tanggung jawab besar untuk perusahaan raksasa yang menggajiku lebih dari cukup.

Kubelokkan mobil ke pelataran kantor dengan darah yang tetap berselancar. Puluhan pelamar sudah menyemut di teras kantor.

Semua berkas lamaran sudah di meja Bapak. Kita akan memulainya jam berapa? Imelda, sekretarisku, sekonyong-konyong berdiri di seberang meja.

Aku melirik tumpukan lamaran dengan jengah. Memberi isyarat pada Imelda untuk keluar. Nanti aku kabari.

Lima belas menit pikiranku berkecamuk. Sempat kusentuh gagang telepon, tapi sejujurnya aku tak tahu siapa yang bakal kuhubungi. Mimin? Lalu mau ngomong apa?

Kalau benar ia melakukan penyerangan, kuperkirakan pada jam istirahat. Mariska dan Ismi di bagian akunting. Mimin tidak bodoh dengan naik ke lantai dua sambil menghunus pisau. Tetapi ia akan menunggu makan siang tiba.

Kubayangkan kantin bank hiruk pikuk. Orang-orang menjerit kalut dan kalang kabut, pisau berkilat-kilat saat berkelebat, lalu berulang menghujami tubuh seseorang. Darah memercik dari tubuh Ismi atau Mariska.

“Mereka sudah menunggu, Pak.” Imelda mengingatkan. Membuatku terperanjat. Ah, setengah jam aku membuang waktu dalam cekam kengerian.

Baiklah. Atur mereka supaya masuk satu persatu, ujarku di tengah peluh yang menggenang.

Pukul 17.00 selesailah proses rekrutmen. Aku bergegas meraup berkas. Kuputuskan tanpa menelepon. Aku harus secepat kilat menjemput Mimin, dalam sebuah perjalanan mendebarkan, karena tak mengetahui peristiwa apa terjadi di kantornya.

Sampai di pelataran bank, tak kutemui keributan. Tak ada mobil polisi atau policeline. Semua normal. Para pegawai keluar menuju jemputan masing-masing. Di mana Mimin menungguku?

Sepuluh menit aku di dalam mobil yang mesinnya menyala. Tapi Mimin tak kunjung keluar. Kuangkat ponsel. Hanya nada panggil.

Seorang satpam menjulurkan kepala. Kubuka kaca. Maaf, Pak, tadi Bu Mimin pulang sebelum jam empat. Tak memesan apa-apa, tapi kelihatannya tergesa-gesa, kata sekuriti muda itu.

Wajahku sontak pucat. Tanpa menelepon, terlebih tergesa-gesa, pasti ia merencanakan sesuatu. Membunuh! Mariska dan Ismi sekaligus? Salah satu dari mereka? Dua-duanya tak kulihat keluar dari bank. Jangan-jangan mereka pulang duluan, lalu Mimin menguntit.

Kuinjak gas. Celakanya aku tak tahu harus kemana. Berputar-putar tanpa tujuan membuatku nyaris gila. Belasan kali kutelepon, tapi Mimin tak kunjung mengangkat. Kucoba menelepon rumah, hanya nada panggil. Ibu malah heran saat kutanya. Belum ada. Tuh Kintan sudah menunggu-nunggu kalian, katanya.

Akhirnya aku pulang karena putus asa. Di ruang tamu, Mimin menyambutku dengan senyum mengembang. Sungguh mati melegakan. Bukan lantaran ia batal membunuh, tetapi, entah, senyum itu seperti pelangi di gugus langit.

Maaf tadi tak sempat mengabari.

Lain kali jangan kau ulangi.

Tunda marahmu itu sebelum mengetahui apa yang akan kutunjukkan padamu.

Pisau baru? Gunting? Mungkin pistol? Sindirku.

Surat Dokter Himawan.

Surat yang menyatakan Mimin kurang waras? Buat apa ditunjukkan kalau semua tahu ia gila? Hei, dokter Himawan? Bukankah ia dokter kandungan? Apa hubungannya?

Nah, sekarang mulai mengerti, kan? Ucapnya menggoda.

Aku memang penasaran. Ia mengerjapkan mata, dan mulai melepas tangan yang ia sembunyikan di punggung. Secarik kertas lebar. Kusambar. Kubaca dengan getaran tangan dan mata yang tergenang. Lalu sontak memeluknya demi melihat kata positif di sana.

Setelah sepuluh tahun, akhirnya kita akan punya anak, Mas, ujarnya lirih di telinga ketika kami berpelukan. Aku mengangguk lembab seraya memandangi Kintan di ruang tengah. Gadis mungil itu kami adopsi sejak bayi. Ia bakal punya adik.

MATA Imelda membulat dan nyaris meloncat. “Jadi?”

Ya, kita akhiri hubungan ini, ujarku tenang, setenang tetes embun. Setelah apa yang kita jalin selama tiga tahun?

Mimin telah menyadarkanku. Kami akan memiliki bayi.

Imelda tergopoh berdiri, meraup blazer dari kursi, menghambur keluar dengan dengus kasar. Beberapa detik sebelum sekretarisku itu hilang ditelan tikungan, kulihat untuk terakhir kali tato naga di lengan kakan-kirinya (*)

Plamongan Indah,

10 Oktober 2006